Asmara

Aku terikat asmara

Tidak peduli bentuknya seperti apa

Tidak peduli ada bentuknya atau tidak

Semua berasal dari tatapan matanya

Advertisements

“Kata emansipasi sudah kehilangan arah, seorang cowok yang blak-blakan ngajak bobo cewek dibilang buaya darat, sebaliknya kalo cewek yang ngajak dibilang budaya barat”

Dear Pejalan Kaki

Hebat, hebat banget

Akhirnya lo punya muka, akhirnya lo dipandang. Gara-gara seorang bocah di Semarang lo punya muka. Gara-gara tindak kecil menghalangi pengendara motor dari apa yang itu haknya, bocah ini menjadi muka lo sekalian sang pejalan kaki

Akhirnya lo berani ngusir mereka-mereka yang pake motor pake mobil biar menyingkir dari apa yang itu hak lo, trotoar

Credits, huge amount of credits and appreciation for you dear pedestrian, it is an achievement

Lo tau bagaimana magna charta terbuat dengan mereka-mereka yang memperjuangkan haknya?

Ga beda sama apa yang lo lakuin memperjuangkan trotoar yang merupakan hak lo

Gw yakin banyak dari lo yang sudah melakukan ini (mengusir pengendara motor dari trotoar) sejak lama, maka dari itu gw bangga banget sama lo

Kalian tuh hebat banget, kalian berani memperjua….

Sebentar dulu deh, haruskah gw terus hiperbola bullshit seperti ini untuk bisa nyebutin dosa lo sekalian?

Gausah lah ya kita langsung masuk ke dosa lo aja

Lo tau ga sih lo itu bodoh, ayam.

Lantang, emang.

Apa yang gw tulis saat ini langsung dari pemikiran gw. Apa yang tersalurkan, ya tersalurkan, gw gamau scroll keatas ngedit-edit bahasa gw lagi, males.

Lo tau ga sih, lo itu punya hak, yet lo itu gapunya kewajiban. Lo cari di kitab undang-undang mana yang mewajibkan lo untuk berjalan di trotoar gw rasa gaada, yang tertera hanya kurang lebih “Mereka yang merupakan pejalan kaki memiliki hak untuk mendapatkan fasilitas yang layak sebagai pejalan kaki” that’s probably it. No further regulation. Gaada tuh yang ngatur lo mesti jalan disini atau disitu, adanya cuma lo pokoknya punya fasilitas, dah tuh. 

Tulisan dan pemikiran bahwa lo itu bodoh ini didasari oleh kejadian 30 menit yang lalu dimana gw ngeliat seorang ibu bawa anaknya menyebrang jalan yang gaada zebra cross whatsoever, padahal diatasnya terdapat jembatan penyebrangan. Ironis.

Menurut gw no further reason kenapa gw pikir lo bodoh.

Seharusnya kita bikin tuh, yang namanya polisi lalu lintas juga mengatur pejalan kaki, mengatur pejalan kali yang “menyimpangi haknya dan berjalan diluar haknya”.

Seharusnya ya.

Tapi coba aja kita terapin cara lo tadi, cara lo ngalangin pengendara motor yang ngambil trotoar. Coba ya.

Lo nyebrang sembarangan nih lewat jalan main jalan aja padahal gaada zebra cross. Trus pengendara mobil “nyingkirin” lo dari hak mereka, kalo kasus lo, lo nyingkirin pengendara motor dengan cara ngalangin.

Tapi dalam kasus ini, pengendara mobil could easily nyingkirin lo dari jalan dengan simpel, tabrak aja. Toh bukan hak lo, toh itu hak si pengendara mobil. Bukan cuma nyingkirin lo dari jalan tapi mungkin dari kehidupan.

Tapi kalo kaya gitu nanti yang dituntut pengendara mobilnya lagi, dibilang mabok lagi, dibilang on drugs lagi, dibilang sakit jiwa lagi. Jadi adil ga sih bagi si pengendara mobil? Ngga.

Sebenernya tulisan ini bukan secara umum ditujukan kepada pejalan kaki, because i’m one of you too in a way. Ini ke kalian yang nyebrang seenaknya. Sekarang ngerti kan kalo lo selalu diuntungkan, ngerti kan kalo gw bilang lo ayam.

Emang sih the problem that i am discussing right here is going nowhere, masalah yang gw bawa cuma muter-muter di-angan temen-temen pembaca.

But no matter berapa lap masalah ini muter-muter di-angan temen-temen pembaca (lol). Masalah yang gw bawa bertujuan satu dan hanya satu. Memperjelek nama lo, pejalan kaki.

And see here, the only way lo bisa menjaga nama lo (pejalan kaki) di masalah ini cuma 1.  

Please fucking cross or yet walk right where you should be, the sidewalk, the zebra cross, etc.

Those are fucking made for you, use it.

Jadi intinya tau diri lah.

Renungan Didalam Kegaduhan

260 pemuda

Berdiri santai namun dengan leher yang kaku, kuping yang tuli, mulut yang congor

Enggan mendongak dan enggan menunduk

Terhadap tuhan sekalipun ia angkuh

Menatap kedepan, merenung apa yang tidak seharusnya direnung, kebencian

Mulut congor dengan kuping tuli

Hanya bisa mengoceh, tidak bisa mendengar

Mulut yang dianggap cerdas, sepertinya lupa rasa hormat

Itulah kami, 260 pemuda
Kami pikir kami mulia karena kami bertamu

Kami pikir kami suci karena umur kami yang muda

Kami pikir kami berkuasa karena orang tua kami yang kaya

Kami pikir kami benar karena kami mulia, karena kami suci, karena kami berkuasa

Salah besar..

Kami kurang ajar

Aku Sebuah Boneka

Aku sebuah boneka

Sebongkah gumpalan benang yang membentuk badanku

Sepasang bundaran plastik yang membentuk pandanganku

Seutas kenur yang membentuk lisanku

Sekurung imajinasi yang membentuk hidupku

Tak akan pernah sebanding dengan mimpi seorang anak yang ku lukis

Tak akan pernah sebanding dengan karakter seorang kanak yang ku ukir

Tak akan pernah sebanding dengan perangai seorang bocah yang ku bentuk